Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntrySep 9, '07 10:26 AM
for everyone
MAU JADI PENERJEMAH? Yah, Kira-Kira Beginilah Caranya.

Oke, tibalah kita pada langkah kedua. Langkah pertama sudah dimengerti, bukan? Nah, pembahasan berikut ini ditujukan untuk siapa pun yang ingin memulai karier menjadi penerjemah. Ready? Let's go!


Pada dasarnya, untuk mendapatkan proyek penerjemahan, hanya ada dua macam amunisi yang dibutuhkan. Yang pertama adalah surat lamaran dan CV yang meyakinkan, dan yang kedua adalah sampel terjemahan yang paten. Karena dua hal ini saling menunjang, maka kita harus betul-betul mempersiapkannya dengan baik. Bagaimana caranya? Beginilah ….

Surat Lamaran dan CV
Tentang surat lamaran, nggak usah dibahas mendalam, kali ya. Aku yakin para pencari kerja pasti sudah familier dengan surat kasih sayang ini. Surat lamaran boleh ditulis menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris, terserah. Yang penting, perhatikan sebaik mungkin seluruh ejaan dan penampilannya. Harus rapi dan bersih dari kesalahan. Satu yang harus selalu diingat, jangan sekali-kali menulis kata PENTERJEMAH dalam surat lamaran. Please deh, kalau aku jadi editornya, satu kata itu akan langsung membuatku berhenti membaca dan mencoretkan tanda silang ke bundel surat, CV, dan sampel yang malang.

Bagaimana dengan CV-nya? Tentu saja isinya harus disesuaikan dengan profesi ini, dong. Cantumkanlah semua hal yang kira-kira akan membuat seorang editor terkesan. Kebanyakan editor adalah kutu buku berdedikasi. Maka, untuk membuat mereka terkesan pun gampang sekali. Sebisa mungkin, perlihatkanlah bahwa kita juga makhluk yang sejenis dengan mereka (baca: kutu buku). Cantumkan semua prestasi yang berhubungan dengan penulisan, penguasaan bahasa asing, dan penguasaan bahasa Indonesia. (Misalnya: pernah punya pengalaman dalam penerjemahan, pernah punya artikel / esai / cerpen / resensi / whatever yang dimuat di media, pernah jadi juara lomba menulis, punya blog buku, dll.) Intinya, CV kita harus membuat si editor menyadari betapa potensialnya kita. Betapa kita pandai menulis dan gemar membaca. Ingat, yang sedang kita tembus adalah dunia perbukuan. Jadi, prestasi-prestasi yang nggak bisa disambung-sambungkan dengan buku, sehebat apa pun, nggak penting buat disebutkan.

Penampilan CV juga harus mengesankan, dong. CV harus diketik rapi dengan komputer. Hari gini gitu loh, jangan ditulis tangan atau pakai mesin tik. Kenapa? Yah, karena dalam mengerjakan proyek penerjemahan, penguasaan ilmu mengetik dengan komputer adalah hal yang mutlak. Lalu, ingat selalu bahwa industri buku adalah industri kreatif (apalagi kalau yang sedang kita sasar adalah bidang penerjemahan novel atau buku-buku populer). Maka, kita juga harus kreatif. Tunjukkan hal itu dalam CV. Misalnya, pasang foto yang keren (ayo, silakan lirik headshotku), jangan pasfoto tegang kayak di ijazah. Intinya, tuangkanlah sebanyak mungkin aura kekerenan kita dalam CV, karena inilah alat jualan kita. Kalau CV kita payah, si editor tidak akan tertarik untuk membaca sampel terjemahan kita.

Sampel Terjemahan
Beres dengan CV, saatnya kita memikirkan si senjata pamungkas, (ayo, bunyikan drumnya!) yaitu Sampel Terjemahan. Inilah dia, satu hal yang akan menentukan nasib kita dalam dunia penerjemahan. Pada dasarnya, sampel terjemahan adalah alat untuk memamerkan kemampuan kita dalam menerjemahkan. (Bedakan dengan CV, alat untuk memamerkan kekerenan.) Nah, aku runut saja hal-hal yang penting diperhatikan dalam membuat Sampel Terjemahan:
  • Harus sesuai dengan bidang penerjemahan yang kita mau. Kalau ingin menerjemahkan novel, sampelnya ya novel. Begitu pula buat yang lain, misalnya buku how-to, buku sains, buku agama, dll.
  • Jangan terlalu panjang. Sebaiknya sampel ini memiliki panjang 3-5 halaman, meskipun biasanya si editor hanya akan sempat membaca tiga halaman. Maka, pilih baik-baik teks yang akan dijadikan sampel. Jangan menerjemahkan teks yang tidak menarik. (Baca: novel ecek-ecek, artikel ecek-ecek, esai ecek-ecek, dll.)
  • Ketiklah sampel dengan rapi. Ingat lagi, sebagai pekerja buku, kemampuan mengetik dengan baik sangat mutlak diperlukan. Gunakanlah font yang wajar dengan ukuran yang terbaca, lalu ketik dengan spasi ganda.
  • Selalu baca ulang terjemahan kita. Saat membaca ulang ini, singkirkanlah teks asli jauh-jauh. Posisikan diri kita sebagai pembaca. Jangan ragu-ragu untuk mengedit setiap kalimat yang tidak masuk akal, baik dari segi susunan maupun makna. Kuncinya, jangan sampai terjemahan kita menyimpang dari teks asli, tapi juga jangan terlalu terpaku padanya. (Ingat pembahasan tentang nyawa teks dalam Step One.)
  • Selalu cek ulang tulisan kita. Jangan sampai ada kesalahan ejaan, kesalahan ketikan, dan kesalahan-kesalahan lainnya.
  • Nah, kalau semua urusan sampel ini sudah beres, maka siaplah kita.

Dikirim Ke Mana?
Ya ke penerbit dong, ke mana lagi? Alamat penerbit biasanya bisa didapatkan di buku yang mereka terbitkan. Nah, lamaran bisa kita kirim via pos maupun e-mail. Jangan lupa untuk menyertakan teks asli yang digunakan sebagai sampel. Kalau lamaran dikirim via e-mail, sebaiknya teks aslinya di-scan saja.

Oh, Iya ….
Dalam postingan sebelumnya, di bagian reply sempat disinggung-singgung mengenai iklan jasa penerjemahan (ingat, jangan bilang PENTERJEMAHAN) di milis. Bagaimana, apakah beriklan di milis merupakan tindakan yang tepat untuk dilakukan? Hmm, yah, kalau aku menjadi editor, aku malah nggak akan tertarik tuh, dengan iklan seperti itu. Jadi, mendingan melamar saja deh ….



Baiklah, sekian dulu kuliah kita kali ini. Selanjutnya, dalam langkah ketiga, kita akan membahas tentang hal-hal yang lebih menentukan masa depan (dengan asumsi lamaran kita diterima, gitu). Okay, sampai bertemu lagi!!


-Mizz Antie-
Penerjemah yang Sok Sibuk

87 CommentsChronological   Reverse   Threaded
kobochan16 wrote on Sep 9, '07
ini toh yang dari tadi diributin mo diposting.... kirain apa gitu.... wakakkakaa
antie wrote on Sep 9, '07
lhah, persiapannya panjang mamah kobo.. hahahahaha....
emangnya mau posting apalagi aku?
jmave wrote on Sep 9, '07
yah, saya hanya bisa posting komen, kalo posting di blog tar dulu deh hehehe...
kalau gogon yang pasang foto di CV, wah sudah bisa diduga mengahadap ke mana ya? kalau sebagai editor, curiga gak ya lihat cara berfoto yang begitu jaman dulu itu? :D *towel-towel gogon pake garpu habis makan mie goreng*
antie wrote on Sep 9, '07
lhah, ini kenapa foto gogon dikomen2 di sini??
*ikutan cabutin belatung di pipi kanan gogon pake pinset
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 9, '07
sampel?
:p
antie wrote on Sep 9, '07
yah, sebut saja begitu :D
jmave wrote on Sep 9, '07
biar brondong itu muncul :D
kobochan16 wrote on Sep 9, '07
lah dia sih gak dipanggil juga muncul, secara udah diobral-obral gitu, masih juga balik hihihihihihi
cheanjas wrote on Sep 9, '07
wah.. detail ya..
ratnajanuarita wrote on Sep 9, '07
ooooo ... gitu tokh ... pantesan terjemahannya si non ini "mengalir" ... mbak suka dapet buku terjemahan yang kalo baca malah jadi pusing dan tersendat-sendat mencerna maksudnya ... kan ada juga tuh penterjemah yang hobi menciptakan kata2 yang tidak umum di jagat vocab bahasa Indo ... akhirnya malah harus lari dulu ke kamus besar bhs indo ...
antie wrote on Sep 9, '07
lah dia sih gak dipanggil juga muncul, secara udah diobral-obral gitu, masih juga balik hihihihihihi
gratis satu bonus satu... hhihhihiih..... (tinggal ditentukan, siapa yang gratis siapa yang bonus)
antie wrote on Sep 9, '07
wah.. detail ya..
hehehe... diusahakan begitu ;D
antie wrote on Sep 9, '07
kan ada juga tuh penterjemah yang hobi menciptakan kata2 yang tidak umum di jagat vocab bahasa Indo ... akhirnya malah harus lari dulu ke kamus besar bhs indo ...
kalo aku penerjemah aliran menjaga rasa asli teks, mbak ;D
jadi, kalo ada kata-kata yang memang nggak familier dalam bahasa indonesia, ya mending nggak aku terjemahin saja. pokoknya prinsip utamanya adalah: "Jangan sampai pembaca mengerutkan kening." apalagi sampai buka kamus segala. waah, tidak boleh itu, hehhehehe.....
terasrumah wrote on Sep 9, '07
baca di milis:

Menerima jasa penterjemahan, harga murah.

Reply: Yaiyalah murah, hasilnya salah-salah kan? Nah, situ aja gak tau penterjemahan atau penerjemahan.
:D
kobochan16 wrote on Sep 9, '07
Reply: Yaiyalah murah, hasilnya salah-salah kan? Nah, situ aja gak tau penterjemahan atau penerjemahan.
hehehe, tenang ida.... tenang... tarik napas...... hue he he he e h h
kleinebeer wrote on Sep 9, '07
Bakal ada berapa step nih? Mau ku-link (lumayan nggak perlu njelasin ulang ke orang2 hihihihi)... :p
femmy wrote on Sep 9, '07
antie said
kalo aku penerjemah aliran menjaga rasa asli teks, mbak ;D
jadi, kalo ada kata-kata yang memang nggak familier dalam bahasa indonesia, ya mending nggak aku terjemahin saja. pokoknya prinsip utamanya adalah: "Jangan sampai pembaca mengerutkan kening." apalagi sampai buka kamus segala. waah, tidak boleh itu, hehhehehe.....
Aku menurutku sih, tergantung konteksnya. Tapi secara umum, aku penganut aliran kebalikannya Anite kayaknya :-)

Aku justru senang memperkenalkan kata-kata "baru". Bukan menciptakan kata baru lho, tetapi memanfaatkan khazanah bahasa Indonesia (lama) yang sebenarnya kaya itu. Kalau bukan kita orang Indonesia yang pakai sekian banyak kata yang menganggur di KBBI, siapa lagi yang mau pakai? Apakah kata-kata itu harus kita biarkan mati di sana? Justru asyik kan kalau kita bisa menghidupkan kembali kata-kata lama? Terus, kenapa membuka KBBI harus diharamkan?


Tapi tentu saja kita nggak boleh sembarangan memasukkan kata "asing" ke dalam tulisan atau terjemahan. Betul kata Antie, jangan sampai pembaca berkerut kening! Biasanya aku pakai kata-kata yang maknanya bisa ditebak dari konteksnya. Atau setidaknya dari bunyinya. Misalnya, aku pernah pakai kata "menggerapai" untuk "grope". Menurutku sih, dari konteksnya maknanya bisa ditebak, dan bunyinya mirip "menggapai-gapai", jadi kupakai. Sayangnya, diganti sama editor, hiks... (hehehe... editornya ayo ngakuuu...)

Kalau konteksnya belum terlalu jelas, bisa digunakan kata sinonimnya bergonta-ganti dengan kata yang ingin kita perkenalkan. Misalnya, "peddler" dalam buku Kapten March sangat cocok diterjemahkan menjadi "penggalas" karena berkeliling menjajakan barang dagangan yang dipikul. Jadilah kupakai "penggalas" dan "penjaja" dan "pedagang keliling", pokoknya sampai kira-kira pembaca nggak bingung sama maknanya.

Tapi, aku paling tergoda memakai kata lama kalau maknanya pas banget. Misalnya, "shimmering hot air" dipadankan dengan "kemendang" (yang artinya memang persis itu!) dalam Stardust. Kebetulan si kemendang ini terdengar puitis di dalam kalimat bersangkutan. Untung ngga diganti oleh editornya.

Kadang konteksnya menyangkut peristilahan khusus. Misalnya kemarin aku ketemu istilah perpanahan. Haruskah aku memakai "quiver" padahal ada kata "tarkas"? Nggak rela rasanya.
antie wrote on Sep 10, '07
Reply: Yaiyalah murah, hasilnya salah-salah kan? Nah, situ aja gak tau penterjemahan atau penerjemahan.
:D
Ida!!!
Sebagai PENTERJEMAH, gue mo minta naik tarif!!! hahahahahha.....
greateclipse wrote on Sep 10, '07
goüek lagi ah... gopek lagi aw aw !
antie wrote on Sep 10, '07
Bakal ada berapa step nih? Mau ku-link (lumayan nggak perlu njelasin ulang ke orang2 hihihihi)... :p
kayanya cuma ada tiga deh.. hehhehe...
oks, silakan dilink ;D
antie wrote on Sep 10, '07
goüek lagi ah... gopek lagi aw aw !
bayaran segitu? langsung tolaaakk!!!
antie wrote on Sep 10, '07
femmy said
Aku menurutku sih, tergantung konteksnya. Tapi secara umum, aku penganut aliran kebalikannya Anite kayaknya :-)
heheheh... memang mbak femmy, tampaknya kita berbeda aliran yak ;D

menurutku bukan membuka KBBI diharamkan mbak, tapi kalo buatku sih, akan lebih baik jika membuka KBBI itu menjadi urusan kita saja. jadi, pembaca biar tahu jadi saja, gitu.

dan benar sekali, tergantung konteks. makanya, setiap buku menurutku memiliki gaya yang khas. ada kata-kata yang memang wajar digunakan dalam suatu buku, tapi jadi aneh digunakan dalam buku lainnya. yah, pokoknya setiap buku itu unik. nah, kalo nerjemahin puisi aku bakal lebih terbuka pada kata-kata yang tidak akrab di telinga sekalipun. begitulah... hihihhih... susah ngejelasinnya :D
qyus wrote on Sep 10, '07
ooo...

terima jadi aja deh..
terima buntelan hasil terjemahan juga...
:D
antie wrote on Sep 10, '07
yah...
aku memahami keinginanmu itu, oom papah manggis....
hahahahahahahaa......
femmy wrote on Sep 10, '07, edited on Sep 10, '07
antie said
menurutku bukan membuka KBBI diharamkan mbak, tapi kalo buatku sih, akan lebih baik jika membuka KBBI itu menjadi urusan kita saja. jadi, pembaca biar tahu jadi saja, gitu.
Tapi misalnya kata "kemendang" itu. Kita tahu kata itu ada, tapi kita takut pembaca nggak mengerti. Apakah kita harus terus-terusan memakai "udara panas yang bergetar"?

Dan aku ngga setuju deh bahwa membuka KBBI itu cuma urusan kita pekerja buku. Bahasa Indonesia kan bukan cuma milik kita, tetapi milik semua orang. Paling bagus kalau semua orang akrab dengan kamus, dan tidak segan membukanya kalau menemukan kata yang tidak dipahami.

Tapi betul, tergantung konteks (udah berapa kali kata ini disebut? hihihik...) Tidak semua buku bisa diperlakukan sama. Makanya aku lebih suka menerjemahkan buku fantasi atau fiksi sejarah. Sepertinya konteks fantasi lebih bisa menampung istilah aneh-aneh, dan konteks sejarah lebih bisa menampung kata-kata jadul (yang keduanya bisa kugali dari KBBI).
qyus wrote on Sep 10, '07
kalo nggak punya KBBI gimana dong mbak Femmy ..
ada yang mau buntelin KBBI buat aku nggak yah :D
femmy wrote on Sep 10, '07
Hehehe... seperti kubilang, si penerjemah harus kreatif menyusun kalimat, supaya istilah "baru" itu bisa dipahami melalui konteksnya, tanpa membuka kamus. Tapi ya harus ada dulu keinginan dan keberanian menggunakan istilah "baru" itu.
antie wrote on Sep 10, '07
femmy said
Tapi misalnya kata "kemendang" itu. Kita tahu kata itu ada, tapi kita takut pembaca nggak mengerti. Apakah kita harus terus-terusan memakai "udara panas yang bergetar"?
kemarin aku dapat juga kata "belencong" mbak, yang ternyata adalah terjemahannya "pickaxe". survei ke semua orang, nggak ada yang kenal kata ini, hihihihi... tapi karena kata itu adalah terjemahan yang pas (apalagi posisinya kata benda) ya mau nggak mau aku memakainya, tapi aku kasih penjelasan saja tentang kata ini pada awal penggunaannya.
femmy wrote on Sep 10, '07
betul, kalau emang pas, mau nggak mau harus dipakai, hihihi...

aku juga sering bingung baca terjemahan atau editan suamiku tuh. dia kan kosakata melayu lamanya luas banget, banyak kata yang dipakainya yang aku nggak kenal dan harus buka kamus.
antie wrote on Sep 10, '07
aku jadi ingat petuah dari mbak tutuk :))
dalam menyunting itu (berarti juga menerjemahkan, dong), banyak kepala selalu lebih baik daripada satu kepala saja....
nocturno wrote on Sep 10, '07
Step keduanya dah keluar...^_^
Ijin Sedot...CTRL+S
Siapa tahu aja bisa mengikuti jejaknya mbak antie dan mbak femmy. hehehe...
antie wrote on Sep 10, '07
silakan, ally :))
ratnajanuarita wrote on Sep 10, '07
menyimak diskusi non antie dengan mbak femmy ... menarik sekali ... saya pribadi biasa menulis ditemani berbagai kamus, terutama utk international submission. sebagai pembaca yang memang sudah akrab dengan berbagai kamus, saya tidak keberatan harus lari ke kamus, tapi sebagai pembaca awam ... saya setuju ... pembaca "selayaknya" dimanjakan untuk membaca saja ... mungkin bisa dibantu dengan disediakannya halaman untuk kata-kata yang berpotensi menimbulkan multi-tafsir ... :-)
greateclipse wrote on Sep 10, '07
senangnya berkenalan dengan editor & translator beken *bangga
greateclipse wrote on Sep 10, '07
ga pake nama samaran lagi kan? ;)
antie wrote on Sep 10, '07
mungkin bisa dibantu dengan disediakannya halaman untuk kata-kata yang berpotensi menimbulkan multi-tafsir ... :-)
glosarium dan catatan kaki, hehehe....

*yang lagi pusing karena harus bikin catatan kaki super panjang
antie wrote on Sep 10, '07
senangnya berkenalan dengan editor & translator beken *bangga
memangnya kapan sih kita berkenalan? hihihhiih.....
(tapi aku memang bukan orang biasa dari soreang ataupun nganjuk ;p)
antie wrote on Sep 10, '07
ga pake nama samaran lagi kan? ;)
yang biasa dipakai itu kan nama samarannya ;)
ratnajanuarita wrote on Sep 11, '07
antie said
*yang lagi pusing karena harus bikin catatan kaki super panjang
hihihi ... jadinya buku tentang catatan kaki ya ... emang kadang suka kesel juga kalo baca buku yang catatan kakinya satu halaman sendiri ... jadi pembacanya keburu disorientasi duluan ketika kembali ke teks-nya ... hehehe ... tapi catatan kaki juga menunjukkan wawasan si penulis looooh ... dan ... selain menjunjung etika kejujuran juga kelegowoannya untuk berbagi ... glosary aja deh non ...
antie wrote on Sep 11, '07
hehehe....
soalnya yang ini kayaknya harus ditaruh di catatan kaki mbak. cuma ya itu, panjang sekali penjelasannya. sedang diolah-olah deh, biar nggak mengurangi kenikmatan membaca ;D
mmlubis wrote on Sep 11, '07
senangnya berkenalan dengan editor & translator beken *bangga
oh, tapi kami tidak bangga bisa mengenal Ressa Herlambang dari Nganjuk tuh.
(Oh, secara Ressa Herlambang itu Justin Timberlake dari Cilacap, ini Ressa Herlambang dari Nganjuk, hahahhahahahahahahahahahaaa)

Biasa-biasa saja, Ress.
mmlubis wrote on Sep 11, '07
btw, Suze ... belencong = banyak bencong?
hihihi ... perasaan udah pernah dibahas yakkkkk
antie wrote on Sep 11, '07
mmlubis said
Biasa-biasa saja, Ress.
aku sih lebih suka memanggilnya Mbang, hahahah...
ya ndak, Mbang? (Hueh, jangan2 nama aslinya Bambang, hheheheh.)
antie wrote on Sep 11, '07
mmlubis said
btw, Suze ... belencong = banyak bencong?
hihihi ... perasaan udah pernah dibahas yakkkkk
berarti belencong = jalan sumatra?
(padahal jalan sumatra = sushi tei)
dibahas lagi... hihihihhiih....
terasrumah wrote on Sep 11, '07
antie said
Sebagai PENTERJEMAH, gue mo minta naik tarif!!! hahahahahha.....
Berapa hah, berapa?

:P
antie wrote on Sep 11, '07
gopek... ;D
(gopek juta)
amiliaramadhani wrote on Sep 15, '07
mbak antie nanya, sbg penerjemah masih sering nengok kamus gak siy??trus metode menerjemahnya gimana?bisa niy dibahas di step 3 to be a translator..kikikik...tq b4
antie wrote on Sep 15, '07
hehehe... nengok kamus tentunya masih dong. kalo ga nengok, ntar nubruk2. oke lia, tentang kamus emang akan diomongin di step 3. tunggu aja ya....
rinurbad wrote on Sep 17, '07
antie said
Cantumkan semua prestasi yang berhubungan dengan penulisan, penguasaan bahasa asing, dan penguasaan bahasa Indonesia. (Misalnya: pernah punya pengalaman dalam penerjemahan, pernah punya artikel / esai / cerpen / resensi / whatever yang dimuat di media, pernah jadi juara lomba menulis, punya blog buku, dll.) Intinya, CV kita harus membuat si editor menyadari betapa potensialnya kita. Betapa kita pandai menulis dan gemar membaca.
Aih, aih..ini kalimat inti yang menurutku paling keemasan di jurnal ini.
Mbak Antie, makasih banyak..hatur nuhun pisan..aku link ya, sangat berguna:)
antie wrote on Sep 17, '07
Ok, Mbak. Makasih banyak juga. Silakan dilink :))
yozarfirdausamrullah wrote on Sep 20, '07
lo mbak Antie, salam kenal yah! Saya Amru. Orang yang suka baca dan nulis gitu.
Saya tahu blog ini dari blog-nya mbak Rinurbad. Setelah ngebaca tulisan mbak ini, saya jadi pengen dapet orderan terjemahan juga, hehe... :). Karena itu saya mo nanya-nanya:

[Quote] Beres dengan CV, saatnya kita memikirkan si senjata pamungkas, (ayo, bunyikan drumnya!) yaitu Sampel Terjemahan.

Sampel Terjemahan harus sesuai dengan bidang penerjemahan yang kita mau. Kalau ingin menerjemahkan novel, sampelnya ya novel. Begitu pula buat yang lain, misalnya buku how-to, buku sains, buku agama, dll.
[/Quote]

Ini maksudnya gimana? Saya pernah sih nerjemahin teks dari English ke Bahasa Indonesia atau sebaliknya. Tapi job itu cuman dari temen atau tetangga kampung saja. Palingan selembar dua lembar, em.. berlembar-lembar juga pernah sih, tapi gak pernah sampai sebuku. Kalau untuk yang udah muncul di koran, majalah atau bahkan terbit sebagai buku belum pernah.
Apa saya mesti nerbitin buku terjemahan dulu? Boleh gak saya nerjemahin dari tulisan yang sebenarnya udah diterjemahin orang lain atau bahkan udah diterbitin? Dan apakah itu harus 1 buku penuh, atau cukup 3 – 5 halaman aja (seperti yang udah disebutin mbak Antie).
Trims sebelumnya atas jawaban embak. Semoga sukses terus, dan semoga juga saya bisa ngikut sukses seperti mbak:).
antie wrote on Sep 20, '07
hehhehehe... aku bukan embak :D

sampel boleh dari buku apa saja, dan 3-5 halaman saja. kalo 1 buku penuh capek dong, mana ga dibayar pula :D. kayaknya lebih baik dari buku yang belum pernah terbit saja biar pure, gituh....

buat terjemahan yang sudah2 itu dicantumkan saja di cv sebagai pengalaman.
imgar wrote on Sep 21, '07
*mengangguk-angguk dan membaca dengan seksama..*
:D
antie wrote on Sep 21, '07
ya, bagaimana? ada pertanyaan?
greateclipse wrote on Sep 22, '07
Ada.. ada sebuah pertanyaan.. Apakah kehidupan Anda berubah setelah memasuki dunia keartisan? *sambil minta tanda tangan :p
antie wrote on Sep 22, '07
yah, begini saudara greateclipse...
kehidupan memang senantiasa berubah. setelah menjadi artis tentunya kehidupan saya menjadi semakin glamour. keliling dunia dengan pesawat jet pribadi, itu sudah merupakan hal biasa. tapi, apakah diri saya berubah? tentu tidak. saya masih tetap keren, bahkan semakin keren. begitulah...

*sambil tanda tangan. mau foto bareng juga?
andhysmarty wrote on Sep 24, '07
enakan bilang Penterjemah ...
editor adalah makhluk berdedikasi apa kau bilang? kutu buku? ah biasa saja ...
tapi kayaknya pengin segera berganti profesi kayak nona Antie nih ...
(namamu beda dikit ama aku, Andie ... ) mungkinkah????!!!
dalus wrote on Oct 2, '07
wah, saya baru liat postingan ini...telat euy... iya nih udah mesti bikin cv baru, terakhir bikin cv waktu masih 'tersesat' di dunia farmasi. *sigh*
antie wrote on Oct 2, '07
hehehhe... ella telat :D
aku mau bikin yang ketiga tapi lagi terserang virus males stadium akut, jadinya malah meracau-racau ga keruan. ayo ella, bikin cv lagi buat dijual ke tempat2 lain, hehehhe.....
dalus wrote on Oct 2, '07
iya harus bikin yg baru nih tp ko malesh mulu ya, apa ini bawaan bulan puasa...? tiap liat kerjaan perasaan rasa enek menjulur ke kerongkongan....hihihihihh
ditunggu kuliah selanjutnya.
antie wrote on Oct 2, '07
hihihiiii... yah begitulah ella...
ngantuk setiap saat setiap waktu ;D
kayaknya males banget mikir yang berat2, hihihii....
albirru wrote on Nov 26, '07
langkah ke tiganya mana?
antie wrote on Nov 26, '07
hihihihi... ibu gurunya lagi jadi pemalas, jadi langkah ketiganya masih di kulkas (berima) :D
greateclipse wrote on Nov 26, '07
aku mau melamar jadi translator ah..
bisa KKN ga yah? hahaha
antie wrote on Nov 26, '07
aku tidak mempekerjakan yang membran-membran, hihihihi...
greateclipse wrote on Nov 26, '07
yah aku kan translator bukan editor, jadi membran itu urusan sang editor :D
antie wrote on Nov 26, '07
etos kerjanya buruk sekali sih....
greateclipse wrote on Nov 26, '07
hahaha.. membran kalo ga disengaja kan gpp.. manusiawi :D
antie wrote on Nov 27, '07
penyakit membran sama parahnya dengan menulis PENTERJEMAH...
greateclipse wrote on Nov 27, '07
aku menulis penerjemah.. :D
antie wrote on Nov 27, '07
tapi membran :))
kobochan16 wrote on Nov 27, '07
mungkin bondan pratama sondank prakoso bin ali umri ini memiliki mutan dengan entog, jadi termutasi membran dari entog itu.....
greateclipse wrote on Nov 27, '07
sesekali gpp :D
greateclipse wrote on Nov 27, '07
entog bermutasi?? hahahaha
antie wrote on Nov 27, '07
siluman entog?
sekali membran tetap membran!!
katumbiri wrote on Mar 28, '08
kemana saja daku selama ini, baru baca postingan ini?
antie wrote on Mar 28, '08
hayoo.. ke mana aja hayoo.. hihihii....
dinar02liebe wrote on Jun 6, '08
wah mbak, jadi penerjemah itu banyak tips nya to ya?
kirain cuma bisa bahasa asing aja..
antie wrote on Jun 6, '08
hahaha.. iya mbak, emang banyak tipsnya ternyata yaa :D
sekarningrum wrote on Jun 26, '09
makasih infonya, BTW, saya lagi coba2 melamar jadi penerjemah di penerbit dan alhamdulillah udah ketrima, tp kok lama ya untuk terima tugas nerjemahin naskahnya. biasanya sampe berapa lama sih seorang penerjemah freelance pemula. thank b4 mbak.
antie wrote on Jun 26, '09
ehehe.. lama atau cepetnya sih tergantung ketersediaan naskah, mbak.. jadi ya bisa lama bisa cepet, heheheh...
sekarningrum wrote on Jun 27, '09
mbak, kalo kita nanya ke penerbitnya udah ada naskah terjemah bwt qt etis nggak yah? secara.. saya kan pemula nih.
antie wrote on Jun 28, '09
etis aja kok mbak, asal dengan cara yang menyenangkan, hehehe..
quavi wrote on Sep 4, '09
mba..baru baca...padahal postingan uda lama ya..hehe..tfs..
sekarningrum wrote on Sep 8, '09
mbak, emang harus menjalani berapa kali tes sih bila kita udah dinyatakan lulus tes terjemah. terus kalo udah dapat order nerjemahin buku, biasanya dalam bentuk apa mbak, dikirim via imel apa pos. makasih ya, mbak. kebanyakan nanya?
sekarningrum wrote on Nov 30, '09
wiii belum dibales, sibuk apa sibuk neeeeh?????????? mo tanya lagi jeee. gini mbak, kalo pingin jadi penerjemah buku apa mesti ikutan macem pro-z gitu? kalo ndak bisa to mbak? thanks. ayo dong dibales n jangan sok sibuk gitu looh.. thanks
andinirizky wrote on May 11, '10
apa mesti ikutan macem pro-z gitu
@Sekarningrum: Pro-Z itu nggak berpengaruh apa-apa pada penerjemah buku. Kirim saja lamaran, contoh terjemahan yang sebaik-baiknya ke penerbit yang dituju. *Seperti yang sudah dituliskan di sini, mbok ya dipraktekkin dulu*

@Empunya Blog: Terima kasih ya untuk tulisannya.
Add a Comment